Quick Review: Samsung Galaxy Note II

[office src=”https://skydrive.live.com/embed?cid=50DA25F8DAA0DEBC&resid=50DA25F8DAA0DEBC%21397&authkey=AOFzwPh9gOW1FiM” width=”320″ height=”240″]

Ini merupakan pertimbangan gadget paling galau di hidup saya. Memilih antara Galaxy Note II dengan iPhone 5. Namun pada akhirnya, saya memutuskan untuk memilih Galaxy Note II dan kemudian menanti iPod touch 5th generation karena desainnya lebih lucu dan berwarna. Hhe.

Sudah beberapa hari, saya menggunakan Galaxy Note II ini sebagai primary smartphone saya. Ada beberapa keunggulan dan kekurangan dari generasi penerus Galaxy Note ini. Tanpa basa-basi, ini dia ulasan cepat saya untuk Galaxy Note II,

Hardware

Sama seperti perangkat Samsung lainnya, badan Galaxy Note II terbuat dari plastik dan terkesan murahan. Memang sangat disayangkan sekali. Layarnya yang berukuran 5.5 inci memang sangat kebesaran dibandingkan smartphone lainnya. Terkadang sulit untuk digunakan dengan satu tangan dan terkadang terlalu ribet untuk digunakan dengan dua tangan. Walaupun begitu, Galaxy Note II terasa nyaman untuk digenggam dengan tangan saya.

Banyak sekali fitur yang sama dengan Galaxy SIII dibenamkan pada Galaxy Note II. Tetapi, kebanyakan dari fitur itu sulit untuk digunakan bahkan setelah saya membaca tutorial yang diberikan. Ya, sangat membingungkan. Satu-satu fitur yang saya suka adalah menyapukan layar dari kanan ke kiri untuk mengambil screenshot layar. Unik, fungsional namun masih terasa kurang sreg untuk dilakukan.

NFC? Belum banyak perangkat yang beredar menggunakannya secara reguler sehingga saya belum dapat mencobanya.

Software

Galaxy Note II menggunakan Android 4.1.1 Jelly Bean dengan balutan TouchWiz UI. Mudah digunakan dan belum ada crash yang berarti hingga saat ini. Kecuali… ada satu layanan bernama CloudAgent yang membuat saya frustasi. Karena layanan itu, saya tidak bisa mengakses galeri foto saya. Satu-satunya cara adalah mematikan layanan itu via Application Manager.

Itulah yang saya suka dari Android. Mengeksekusi aplikasi jeroan dengan mudah layaknya tukang jagal. Terbuka Android atau bisa saya bilang… mudahnya Android untuk ditelanjangi memudahkan pengguna untuk mengkustom segala pengaturan yang ada hingga memasang custom ROM. Tetapi, buruknya dari keterbukaan ini adalah waktu kita hanya habis untuk mengkustom perangkat Android kita daripada menyelesaikan berbagai pekerjaan kita yang jauh lebih penting.

Ketika dipakai sehari-hari

Saya sangat suka S-Note dan S-Pen di Galaxy Note II. Saya sangat senang menggunakannya untuk menemukan berbagai ide desain rancangan tugas studio saya, hanya dengan langsung mencorat-coret di atas gambar preseden yang temukan di web. That’s it!

Lari? Ada aplikasi Nike+ Running yang bisa didapatkan dari Play Store. Namun dari percobaan yang saya lakukan, ‘sang pemandu lari’ terus bersuara ketika Galaxy Note II bergoyang mengikuti gerakan lari saya. Sangat. Mengganggu.

Kesimpulan cepat

Galaxy Note II adalah phablet terbaik dan (mungkin) terburuk yang pernah saya miliki. Memang. Karena ini adalah phablet pertama saya. Masih banyak hal yang harus diperbaiki Samsung, terutama dalam hal user experience. Bila kekacauan tidak pada Samsung, pasti kekacauan UX ada pada Android buatan Google sendiri. Ada kemungkinan saya akan melepas perangkat ini lebih cepat dari sebelumnya dan memutuskan untuk menukarnya dengan iPhone 5 bila sudah hadir resmi di Indonesia dan bila Samsung tidak segera memperbaiki masalah kecil namun sangat mengganggu itu.

Leave a Reply